altair zephyr roosevelt

bagaimana mencintai ke-engkauan-mu dengan ke-aku-an ku adalah hal yang sulit untukku, untuk saat ini

kau titik dua tutup kurung

i’m not your yesterday

s for suuu

s for suuu

keren abis muka gue. diambil di sela - sela pemotretan buku tahunan

keren abis muka gue. diambil di sela - sela pemotretan buku tahunan

kau yang seharusnya IV

seharusnya itu tidak terbatas

sepertinya aku mengenalmu sebelum aku lahir

tapi mungkin, menginjak beberapa waktu dulu

baru aku mengenalmu dengan baik

di raut wajahmu

seakan - akan memanggilku

menghentikan setiap aktivitas di kampusku

tapi terkadang aku memberikan respon tidak baik

seperti anak - anak lainnya

ada perasaan yang tidak gampang diucapkan kepadamu

“aku sayang kamu, ibu”

diteruskan oleh air mata yang mengintip di ujung mata

“dasar lelaki, susah sekali untuk menangis”

terima kasih, ya, ibu

kau yang seharusnya III

kau bernafas teratur

di ranjang tidurmu

guratan halus khas lanjut usia

membuka kenangan tentang dusta - dustaku

bisa saja

kau menghilang

dan aku tidak bisa mencari hilangmu

sebelum dusta - dustaku itu kau maafkan

aku hanya lelaki kecil yang biasa

menulis ini untuk pemberian yang tidak bernilai

ini adalah bentuk kasih sayang dalam balutan lainnya

ibu

kau yang seharusnya II

beliau nampak menua

disaat kau menginjak kepala dua

kau mulai meninggikan harga diri

melepaskan diri darinya

harga dirimu terkadang buta

malu jika harus sekedar menceritakan kisah pahitmu

kau tidak sadar

beliau memiliki pengalaman

dan kau masih kepala dua

terakhir

sebelum kau tidak hidup bersamanya

kau mendatangi beliau

bersama pasanganmu

beliau hanya berkata

“ayah ikut denganmu, nak”

beliau pun bersiap

dengan kau disampingnya

menemanimu

sampai kau benar - benar siap untuk dilepas

beliau,

kau sekarang menceritakannya kepada anakmu

kau yang seharusnya

beliau

tersebab banyak hal

mulai terlihat keriput di wajahnya

pikirannya dipenuhi olehmu

dan terkadang pikiranmu tidak memenuhinya

beliau yang seharusnya

ada di pikiranmu

beliau terlihat menua di kursi goyangnya

tersenyum bahagia

melihatmu menggandeng tangan anakmu

beliau

pendengarannya mulai berkurang

tidak bisa lagi menemani cerita - ceritamu

beliau

tidak bisa dibedakan lagi tangisannya

beliau menangis

melihatmu sekarang dengan keadaan

yang bahagia

dan kau yang seharusnya disayang, ibu

kenangan

kita saling bergandengan tangan
mengikat dalam tali
kita saling bercerita
mengikat dalam ucapan
kita saling mendengar
mengikat dalam udara
kita pernah berjalan bersama
mennyimpul senyum di jalanan

kenangan
pahit dan manis
melebur menjadi kenangan
untuk kata yang tidak pantas
lupakan saja
ini untuk bersama
tidak ada yang ingin disakiti
kita hanya saling menjaga perasaan masing - masing 

pahit . keputusan harus tetap diambil .

—terima kasih untuk beberapa hari belakangan ini .